10 March 2006

Bantul

''JANGAN cepat hakimi seseorang!'' kata Presiden SBY di Brunei Darussalam, Selasa pekan lalu, mengomentari pemberitaan ihwal surat Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi yang diduga berbau KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Katebelece itu muncul dalam kaitan renovasi gedung Kedutaan Besar RI di Seoul, Korea Selatan.

SBY pun mengajak masyarakat lebih waspada dan cermat, agar tidak gampang menuduh. Namun, sejalan dengan tekad pemerintah yang bersih, transparan, dan responsif, kasus itu perlu dijelaskan kepada publik. Maklum, ada yang menyebut surat itu dipalsukan.

Tanggapan pun beragam. Dan, seperti yang sudah-sudah, bisa saja muncul kambing hitam. Bisa pula menimbulkan fitnah. Maklum, hidup di zaman materialistis. Segalanya dikalkulasikan secara dagang. Orang menyuap pasti berharap pukulan besar.

Soal fitnah, Bupati Bantul H.M. Idham Samawi yang menerima penghargaan PWI Award 2005, dua pekan lalu --baru disampaikan agar tak mempengaruhi proses pilkada-- juga pernah mengalami. Menjelang pemilihan itu, beredar ribuan fotokopi tuduhan belasan kasus Idham yang korup. Di bawah pintu rumah warga pun diselipi.

Idham tenang karena tak pernah merasa merugikan keuangan negara. Ia hanya membuat kebijakan dengan memangkas kerumitan birokrasi. Apalagi, sebelum mengeluarkan kebijakan itu, ia mengonsultasikan pada Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Jawab atasannya: ''Oke. Jalankan!''

Akhirnya, becik ketitik olo ketoro, yang benar akan ketahuan sendiri. Ia dinyatakan tak bersalah. Pada pilkada medio 2005, rakyat (73%) mutlak menghendaki dia jadi bupati kedua kali. ''Alhamdulillah,'' kata Idham, yang lahir dan dibesarkan di lingkungan pers.

Idham bertekad mewujudkan manusia Bantul yang cerdas, berakhlak mulia, dan berkepribadian. Kuncinya pendidikan. Lalu dikisahkan tentang gurunya yang ke Malaysia untuk mengajar. Kala guru itu pamit, Idham dan seluruh teman dia di kelas V SD menangis. Air mata Pak Guru itu pun tak terbendung.

Malaysia yang peduli pendidikan merekrut guru Indonesia. Kini, gambaran itu terbalik. ''Kita ke sana untuk jadi batur,'' katanya. Batur adalah pembantu rumah tangga. Nyesek, memang.

Itu yang membuat Idham peduli pada pendidikan. Seluruh SD di Bantul dilengkapi perpustakaan. Belum lama ini, misalnya, ia memborong buku senilai Rp 20 juta untuk mengisi perpustakaan. Dananya? ''Dana taktis saya,'' kata Idham, yang mencanangkan seluruh kepala sekolah berpendidikan S-2.

Keprihatinan lain adalah anak-anak sekarang yang kurang cinta pada budaya bangsa. Simak saja murid-murid yang lebih paham SpongeBob ketimbang Sultan Agung. ''Pasukan Sultan Agung ke Batavia berjalan 91 hari untuk melawan Belanda. Kini, anak-anak naik bus sembilan jam untuk ke Dunia Fantasi Ancol,'' katanya.

Jadi, mereka perlu diarahkan agar cinta seni, budaya, dan Tanah Air. Cinta bisa melahirkan orang yang berjiwa jenius. Sumber daya manusianya pun ditingkatkan. Caranya? Murid-murid SD diberi tiga ekor ayam, dan telurnya dikonsumsi oleh mereka. ''Usia nol sampai 12 tahun itu perlu gizi tambahan,'' kata Idham.

Selain itu, secara pelan-pelan keberadaan sekolah di Bantul (70% SMA dan 30% SMK) komposisinya akan diubah jadi sebaliknya. Sebab, faktanya, lulusan SMA hanya 10% yang ke perguruan tinggi, sisanya menganggur. Ini beban berat. ''Kami harus menciptakan lapangan kerja,'' ujarnya.

Kabupaten seluas 508,85 kilometer persegi dan berpenduduk 790.000 jiwa itu memiliki areal sawah 33%. Maka, sektor pertanian pun dibenahi. Produksi padi harus melebihi produk nasional rata-rata 5 ton per hektare. Caranya? ''Kami kerja sama dengan UGM untuk menciptakan bibit unggul yang cocok bagi Bantul,'' kata Idham.

Berhasil. Produksi padi Bantul meningkat menjadi 7,2-9 ton per hektare. Efek intensifikasi ini adalah, ''Tiap kenaikan 1,5 ton padi itu menyerap satu tenaga kerja,'' katanya.

Produk kerajinan Bantul yang bernilai ekspor 60% lebih dari total ekspor DIY juga dioptimalkan. Agar bisa memangkas mata rantai pengangkutan, truk kontainer boleh memasuki sentra kerajinan di pedesaan. Jika jalan desa jadi rusak? Jawab Idham kalem, ''Ya, dibetulkan.'' Kebijakan ini didukung kapolres dan aparat terkait.

Pokoknya, wong cilik harus sejahtera. Hingga detik ini, Idham tak mengizinkan mal. Alasannya, pusat perbelanjaan itu justru akan memukul pasar tradisional dan toko kecil. Mengapa harus ikut-ikutan bikin mal, ''Sementara di Amerika dan Eropa malah kembali ke pasar tradisional,'' tuturnya.

Idham mengaku pernah diiming-imingi 10% saham kosong jika mal diizinkan di Bantul. Jika nilai investasinya Rp 150 milyar, berapa duit yang masuk kantong? Namun ia tak tergiur. Rakyat bukan sapi perah. Derap irama hidup harus dinikmati dan diresapi, tapi bukan untuk beraji mumpung.

Beberapa waktu lalu, kala harga cabe anjlok mencapai Rp 900-Rp 1.000 per kilogram, Idham langsung mengoperasi pasar. Lebih dari 1,5 ton cabe diborong. Kontan, harga cabe melesat hingga Rp 1.700 per kilo. ''Pemkab Bantul tidak berniat berdagang, tapi menolong petani,'' kata Idham, yang cuma punya tiga baju batik itu.

Demokrasi ditumbuhkan. ''Bohong ada demokrasi jika tanpa komunikasi,'' katanya. Untuk itu, ia tidak alergi kritik. Ia doyan ngumpul, mendengarkan suara dan keluhan rakyat. Emblem bupati acap ditanggalkan agar tak menciptakan jarak dengan wong cilik.

Bahkan, ''tradisi'' naik sepeda atau motor harus menuntun kendaraannya saat memasuki halaman kabupaten ditiadakan. Larangan parkir mobil dengan pantat membelakangi pendopo pun dihapuskan. ''Parkir dengan kepala mobil di atas pun silakan, kalau bisa,'' kata Idham sembari tertawa. Bantul memang lain!

Oleh Widi Yarmanto (Gatra.com)

No comments: