21 February 2006

Berbagi

"KALAU mau bertambah, cobalah Karta berbagi...." Suara Haji Muhidin itu terngiang terus di telinga Karta, seorang penjual ikan di Pasar Jembatan Lima, Kota, Jakarta.

Karta mengadu pada Haji Muhidin bahwa penghasilannya tidak pernah cukup. Dagangan dia bukannya tidak laku. Tapi dia terbentur pada modalnya yang kecil, sehingga perolehan keuntungan pun sedikit. Itu sebabnya, Karta mendatangi Haji Muhidin untuk meminta nasihat agar ada yang memberi tambahan modal.

"Karta, perkara nambah modal mah gampang. Asal Karta bersyukur, penghasilan pasti ditambah. Bahkan kadang enggak perlu modal tambahan. Kan, perkara rezeki bertambah, perkara syukur. Kata Allah, kalau kita bersyukur, maka akan ditambahi dengan segala nikmat."

"Pak Haji, gimana rezeki mau nambah, wong modalnya udah ketaker. Segitu-gitunya. Dagangan habis ampe pol juga, ya, hanya sekian yang saya bawa pulang...," kata Karta dengan nada rada putus asa.

"Allah Maha Memberi Rezeki, Karta. Kalau Allah sudah mau menambah rezeki bagi kita, dari mana saja jalannya, pasti ada. Ini juga perkara tauhid, Karta. Rezeki Karta tuh bukan dari dagangan ikan, tapi dari Allah," ujar Haji Muhidin.

Lama Karta berbicara dengan Haji Muhidin tentang peruntungan dagangan dia, hingga ada satu nasihat Haji Muhidin yang tetap melekat di otak, "Kalau mau bertambah, cobalah berbagi...".

Sejujurnya, Karta tidak terlalu paham. Tidak berbagi saja sudah kurang, apalagi harus berbagi? "Apa tidak makin kurang...?" Sungguhpun Haji Muhidin meyakinkan dengan firman Allah bahwa siapa yang berbuat satu kebaikan, Allah akan mengganti 10 kali lipat lebih banyak, Karta masih belum tergugah.

Pagi itu, anaknya bercerita pada Karta, sebelum dia berjualan ke pasar. "Pak, ada temen saya yang enggak bisa bayaran sekolah. Bapaknya udah enggak ada. Katanya, dia mau berhenti."

Di saat itulah Karta teringat nasihat Haji Muhidin yang lain, yang mengatakan, "Kalau mau ditolong Allah, tolonglah hamba-Nya yang sedang kesusahan."

Seketika itu pula Karta seperti diingatkan, lalu bilang pada anaknya, "Bilangin sama kawan kamu itu, Bapak aja yang jadi bapaknya." Anaknya girang. "Oke, Pak. Saya akan bilangin dia. Dia pasti senang, tuh!"

Sambil memberi uang saku pada anaknya, Karta juga memberi tambahan Rp 5.000 pada si anak.
"Buat saya nih, Pak? Tambahan?"
"Bukan. Itu buat kawan kamu. Kan kamu udah, sepuluh ribu."
"Oh, kirain buat saya," ujar anaknya sembari tertawa kecil. "Baik Pak, akan saya berikan pada dia."

Karta beristigfar. Bersyukur, itulah yang dia lakukan. Anaknya masih punya diri dia sebagai bapak. Dan ia masih memiliki anak sebagai anaknya. Hari ini ia bisa membahagiakan orang. Inilah yang ia syukuri. Benar juga Haji Muhidin, jika mau bertambah rezeki, harus bisa bersyukur dulu. "Berbagi dan bersedekah adalah salah satu wujud dari bersyukur," kata Haji Muhidin, waktu itu.

Karta tersenyum. Lalu ia berharap, "Mudah-mudahan ada yang memodali saya. Buat memperbesar dagangan." Menjelang lohor, dagangan Karta sudah habis. Selama ini ia berdagang memang hanya sampai siang, dan setelah itu pulang.

Nah, hari itu, menjelang pulang, ada kawan Karta yang menghampiri. "Karta, saya pinjam motormu dulu, ya...."
Karta meminjamkan motornya, sambil berpesan, "Jangan lama-lama, ya. Saya udah mau pulang."

Sekitar 15 menit, kawan itu kembali dan memulangkan motor Karta. "Karta, makasih, ya. Ini kuncinya, ini STNK-nya, dan ini buat ganti bensin," ujar si teman. Karta tertegun. Dia diberi uang Rp 100.000, yang katanya buat ganti bensin. "Allah Mahabenar Janji-Nya".

Karta ingat, tadi pagi ia berniat menanggung biaya pendidikan kawan anaknya, dan memberi uang saku pada dia Rp 5.000. Siang ini Allah membalas dengan Rp 100.000. Bagi Karta, rezeki ini bukan dari si peminjam motor, melainkan dari Allah.

Akhirnya Karta memahami bahwa cara Allah memberi tambahan rezeki dari banyak jalan. Dan, ternyata pula, rezeki itu tidak harus dicari-cari dengan menambahi modal dulu. Cukup dengan diawali bersyukur, berbagi, bersedekah, maka rezeki bisa bertambah.

Kejadian siang itu memberi pelajaran baru pada Karta. Memang, otak terkadang dipenjarakan dengan hitung-hitungan kita sendiri bahwa kalau mau untung harus begini harus begitu. Termasuk dengan menambah jumlah modal. Banyak manusia yang lupa atau tidak tahu --termasuk Karta- untuk menemukan jalan bersyukur lebih dahulu, supaya Allah, Yang Maha Memberi Nikmat, menambah perbendaharaan rezeki buat kita.

Oleh Yusuf Mansur (Gatra.Com)

14 February 2006

Menyelamatkan Perusahaan

Suatu hari, seorang pengusaha datang ke konseling Wisata Hati. Ia mengadukan bahwa bisnisnya sudah hancur. Dia mengaku tidak memiliki apa-apa lagi. Benar-benar telah habis-habisan.

Ternyata, setelah diperhatikan lebih jauh, kemelaratan si pengusaha ini tidak seperti yang terbayangkan. Ia datang membawa mobil sedan Opel. Pemandangan ini sepintas sangat kontradiktif dengan pengakuan dia.

Sebelum menimbulkan penafsiran yang tidak-tidak, si pengusaha nyeletuk: "Mobil itu tinggal menunggu waktu untuk ditarik dealer." Ia juga menceritakan bahwa sebagian besar pegawainya sudah dirumahkan. Hanya karyawan yang memahami diri dia yang masih bertahan.

Di dalam konseling itu ditawarkan padanya solusi mengatasi kebangkrutan usaha dengan cara bersedekah. "Sebelum bicara banyak tentang solusi bagi bisnis itu sendiri, cobalah Bapak bersedekah. Sedekah itu menolak bala dan memperpanjang umur, di samping mengundang datangnya rezeki."

"Apa maksudnya," tanya dia.

"Bicara bisnis, bicara gampang. Kalau Bapak sudah dekat lagi dengan Allah, bisnis akan lancar lagi. Bapak mau minta tolong kepada Allah kan? Pendekatannya adalah lakukan dengan pendekatan ibadah. Salah satu yang disukai oleh Allah adalah kalau kita mau menolong sesama, meskipun saat ini kita terhitung orang yang susah."

"Sedekah akan menolak bala. Kalau Bapak menganggap kebangkrutan Bapak adalah bala. Maka, insya Allah sedekah akan bekerja menyelamatkan Bapak dari kebangkrutan total. Sedekah juga bisa memperpanjang umur. Siapa tahu, menurut Bapak, Bapak sudah akan tamat riwayatnya sebagai pebisnis yang andal, beralih sebutan menjadi pebisnis yang bangkrut, kemudian malah bisa berubah kondisinya."

"Perusahaan Bapak bisa bernapas lagi. Bisnis bergerak lagi. Dan Bapak tidak jadi 'mati'. Dan, bahkan sedekah bisa mengundang datangnya rezeki. Siapa tahu pula perusahaan Bapak malah kebanjiran order yang Bapak tidak perkirakan sebelumnya. Bukankah Allah bisa memberikan jalan, bisa membukakan jalan, dari arah yang tidak disangka hamba-hamba-Nya?"

"Pak, nanti, kalau sudah menikmati hasil sedekah Bapak, berupa anugerah pertolongan dari Allah, Bapak pelihara sedekah itu menjadi pakaian utama, pakaian sehari-hari dalam berbinis. Sebab apa? Sebab sedekah akan menyembuhkan penyakit, akan menjaga diri dari penyakit. Dalam hal usaha, maka sedekah akan bisa membuat perusahaan terlindungi dari hal-hal yang bisa membuat merugi."

Si pengusaha ini bingung. Sedekah di saat sulit bukanlah pilihan mudah. "Lagian saya kan nggak punya apa-apa?" begitu katanya.

"Itu. Opel?"

"Yah, mobil Opel itu kan sudah mau ditarik...."

"Nah, dari pada keburu ditarik? Kan lebih baik disedekahkan dulu. Diberikan kepada Allah."

"Nanti saya pakai apa?"

"Itu tandanya bukan persoalan ditarik atau tidak, tapi persoalan Bapak masih berat melepas barang kesayangan yang mungkin tinggal satu-satunya. Iya kan?"

Todongan statemen tersebut membuat si pengusaha tak bisa mengelak, dan mengiyakan. Suka atau tidak suka, mobil itu memang akan ditarik. Sebab, sudah empat bulan ia menunggak cicilan. Setoran awal, yang semula terasa enteng, hanya kurang lebih Rp 8 juta-an sebulan, kini terasa sangat berat. Belum lagi harus bayar denda dan biaya tarik kendaraan yang selangit. Wuh, berat!

Namun, dia juga tidak pernah terpikirkan untuk menyedekahkan mobil tersebut. Dalam gambaran dia, memanfaatkan kendaraan itu sebelum ditarik oleh dealer adalah lumayan. Lagi pula, kalau nanti ditarik, ia akan bernegosiasi menjual sedan Opel itu, dan masih ada sisa cicilan yang bisa digunakan.

Setelah ngobrol sana ngobrol sini tentang sedekah, dan diyakinkan mengenai pintu-pintu rezeki dari Allah, pengusaha ini secara bulat akan menyedekahkan mobil dia. Berkas-berkas kredit dia kumpulkan, lalu melangkahkan kaki ke showroom. Dia jual Opel-nya kepada showroom mobil. Perusahaan itulah yang akan melunasi seluruh cicilan, termasuk yang nunggak. Selisih antara harga jual dan sisa cicilan inilah yang oleh si pengusaha disedekahkan.

Ajaib! Tidak sampai seminggu, ia kembali lagi berkunjung ke konseling. Kali ini, meski dia naik taksi, wajahnya berseri-seri. Ia kisahkan perjalanan hidup dalam seminggu ini. Awalnya dia mengeluh berat. Tanpa mobil ruang geraknya terbatas.

Ternyata, di balik kesulitan itu dia kedatangan seorang teman dari luar kota yang membawa mobil. Mengetahui bahwa si pengusaha tidak punya aktivitas usaha, dan tentunya memiliki waktu luang banyak, diajaklah muter-muter untuk bertemu si ini, si anu, dan sebagainya.

Buntut dari pertemuan yang tak disangka-sangka tersebut, "Saya dilibatkan untuk ikut berbisnis dengan kawan yang dari luar kota itu," katanya dengan penuh semangat.

Benar. Allah memang Mahaluas. Dia akan menyediakan jalan-jalan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. "Jadi saya tidak lagi merasakan tidak punya mobil," tuturnya. "Sebab, saya tiap hari masih pakai mobil."

"Bahkan," ia melanjutkan, "Dari hasil jalan bareng dengan kawan ini banyak order untuk perusahaan yang kemudian di-sub-kan ke perusahan saya." Malah, dengan bangga pula ia kisahkan tentang beberapa karyawan yang dulu diistirahatkan telah dipanggil kembali mengerjakan proyek-proyek baru.

Rezeki memang datang dari arah yang tak disangka-sangka, jika Allah sudah menghendaki.

Salam,

Yusuf Mansur (dari www.gatra.com)

11 February 2006

Senggigi

Mau share aja, betapa indahnya pulau gue.....
salah satunya adalah pantai senggigi yg lumayan beken itu...



Yang ini Senggigi di senja hari...

10 February 2006

Memang Mau Hijrah ke Mana?

Usai menulis Resonansi tentang hijrah pekan lalu, saya menerima pesan ringkas. "Memang mau hijrah ke mana?" Tentu saja pesan itu pesan seloroh. Pengirim pesan bukanlah orang yang tak mau hijrah. Sebaliknya, ia telah membuktikan diri sukses lantaran hijrah. Padahal, untuk hijrah itu ia harus meninggalkan posisinya yang telah mapan.

Semula ia bekerja di lembaga negara urusan pemeriksaan keuangan. Dengan kapasitasnya, ia sangat terpakai oleh kantornya. Jika mau, dengan mudah ia bisa kaya sebagaimana teman-teman seangkatannya. Tapi, ia memang pribadi unggul. Ia memilih keluar dari tempat kerjanya buat sekolah di sebuah institut manajemen terbaik di Asia. Keunggulannya pun berbuah. Ia lalu bekerja di sebuah badan dunia. Materi tidak kekurangan. Tapi, lebih dari itu, ia berkesempatan membantu sangat banyak warga miskin.

Banyak lagi orang-orang sepertinya: sukses setelah hijrah. 'Ke mana' hijrahnya berbeda-beda. Tapi semua yang berhijrah secara sungguh-sungguh bukan setengah-setengah-- selalu berhasil. Jadi, ke mana hijrah tak jadi soal, asalkan ke perubahan yang lebih baik. "Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin," sabda Rasul. Tentu esok harus lebih baik dari hari ini. Itulah ajaran Nabi. Agama selalu dihadirkan buat melakukan perubahan, walaupun agama kemudian juga selalu dipakai alasan untuk mempertahankan status quo.

Maka, Ahad lalu, teman-teman ngaji saya bersepakat hijrah. Hijrahnya adalah membuat perubahan sederhana namun nyata dalam hidup masing-masing. Bisa saja hijrah itu dalam bentuk berhenti merokok, berupaya selalu berjamaah di masjid lebih dari sekali dalam sehari (hal yang jarang dilakukan para eksekutif), membaca satu buku baru dalam seminggu, menjadi pendengar yang baik, lebih rutin berolahraga, tak marah menghadapi macet atau melihat kesalahan orang, tersenyum saat berpapasan dengan siapa pun, dan banyak bentuk hjrah lainnya.

Hijrah selalu mengantarkan pada yang baru. Dengan demikian, hijrah pada hakikatnya adalah belajar. Sedangkan belajar harus dilakukan sepanjang usia. Bila perlu, kata Nabi, sampai ke negeri Cina. Seorang pembelajar tak akan pernah memaksakan pahamnya sendiri. Termasuk paham yang dipandangnya sebagai kebenaran agama. Pembelajar selalu tahu, ilmu Allah jauh lebih luas dan dalam ketimbang yang dapat dipahaminya. Pembelajar selalu menghargai siapa pun --pejabat atau rakyat, kawan atau musuh-- karena ia tahu Allah pasti memberi kelebihan pada setiap orang. Maka, Rasul tak ragu minta pendapat Zaid bin Haritsah tentang persoalan keluarganya. Padahal, Rasul setiap saat dapat menerima wahyu. Sedangkan Zaid hanya seorang remaja.

Kita tentu ingin menghijrahkan umat dan bangsa ke keadaan lebih baik. Tapi, itu tak mungkin terjadi tanpa kita mampu menghijrahkan diri sendiri dalam urusan sehari-hari. Padahal, kita cenderung enggan menghijrahkan diri sendiri. Kita sering takut menghadapi sesuatu yang baru, karena baru selalu punya sisi tidak pasti. Kita takut pada ketidakpastian. Kita menyukai kemapanan. Yang miskin mapan dengan perasaan 'tidak berdaya, paling menderita, dan selalu jadi korban ketidakadilan dunia'.

Yang kaya dan berkuasa mapan dengan perasaan 'lebih hebat dari yang lain serta takut miskin'. Kemajuan apa yang akan diperoleh umat dan bangsa bila setiap kita enggan berubah, dan nyaman menjadi mapan? Misi para Rasul selalu mendobrak sikap mapan masyarakatnya. Rasulullah SAW tak hanya mendongkel kemapanan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan. Rasul tinggalkan kehidupannya yang mapan buat menempuh jalan dakwah. Rasul bahkan mengajarkan hijrah fisik: meninggalkan daerah asal yang membesarkannya buat hidup di daerah yang sama sekali baru. Itu teladan Rasul.

Tapi, sekali lagi, virus mapan seringkali telah sedemikian melekat dalam jiwa. Kita sama sekali tak menoleh teladan Rasul itu. Kita tetap saja enggan berhijrah dalam perilaku dan bahkan fisik. Dalam beragama, kita memilih menjalankan ibadah formal saja. Padahal, hijrah selalu mengantarkan pada sukses. Bukan hanya di akhirat kelak, tapi juga di dunia. Itulah yang telah ditunjukkan Rasul dan para pengukir peradaban dulu. Jadi, mari hijrah ke manapun yang lebih baik.

Oleh : Zaim Uchrowi (Republika)

07 February 2006

Racun

SEMUA kejadian pasti bermakna, tak peduli bikin sedih atau sakit hati. Maka, nasihat arif yang acap kita dengar adalah: ''Petik manfaatnya, ambil hikmahnya.'' Ubahlah cara pandang! Istilah kerennya, reframing. Yaitu upaya membingkai ulang sebuah kejadian dengan mengubah sudut pandang secara positif.

Maka, jadilah sebuah kebencian bersulih cinta. Ketakutan mewujud ketenteraman batin. Dan, yang tampak ''tidak adil'' terlihat sebagai anugerah yang perlu disyukuri. Apalagi jika mampu melihat secara polos, alami tanpa ego, maka akan tergambar cinta kasih yang hidup dalam setiap renik penciptaan-Nya.

Hidup pun benar-benar tenteram tanpa dibayangi ketakutan. Pelukis, pemusik, dan sastrawan besar India, Rabindranath Tagore (1816-1941), menulis begini: ''Di belakangku ada kekuatan tak terbatas, di depanku ada kemungkinan tak berakhir, di sekelilingku ada kesempatan tak terhitung. Dan, semua itu ada Yang Mengatur. Kenapa mesti takut?''

Ya, kenapa mesti takut? Sunan Bonang alias Makhdum Ibrahim, yang lahir pada pertengahan abad ke-15 dan meninggal pada abad ke-16, menulis sajak begini:

Jangan terlalu jauh mencari keindahan
Keindahan ada di dalam diri
malah seluruh dunia ada di dalam diri
Jadikan dirimu cinta
Supaya dapat memandang dunia
Pusatkan pikiran heningkan cipta
Siang malam, berjagalah!
Segala yang ada di sekelilingmu
Adalah buah amal perbuatanmu


Jadikan dirimu cinta supaya dapat memandang dunia! Kalimat yang bermakna dalam. Dr. Deepak Chopra, ahli psikospiritual India, menulis dalam The Way of the Wizard, Rahasia Jurus Sang Empu, cinta adalah ''yang meluluhkan segala ketidakmurnian, sehingga yang masih ada hanya yang sejati dan yang riil.'' Selama kaupunya takut, kaupunya kemarahan, kaupunya ego yang mementingkan diri sendiri, kau tidak bisa benar-benar mencintai.

Dan, tidak ada orang yang tanpa cinta. Yang ada hanya orang yang tidak bisa merasakan kekuatan cinta. Cinta itu lebih dari suatu emosi atau suatu perasaan. Cinta lebih dari kegairahan. ''Cinta adalah udara yang kita hirup sebagai napas... dan beredar dalam tiap sel.'' Cinta adalah kekuatan tertinggi karena tiada paksaan.

Cinta itu pula yang menggerakkan saya membagi kisah dari e-mail seorang rekan. Ceritanya, di zaman Cina kuno, seorang wanita muda yang baru menikah, Li-Li, tinggal di rumah ''mertua indah''. Setelah berhari-hari berkumpul, dia menyimpulkan tidak cocok dengan si ibu mertua. Tiada hari tanpa debat dan tengkar.

Li-Li tambah kesal karena adat Cina kuno mengatakan: ''Harus selalu menundukkan kepala untuk menghormati mertua dan menaati semua kemauannya.'' Suami Li-Li, seorang yang berjiwa sederhana, sedih menghadapi keributan yang tiada pernah henti itu. Akhirnya, Li-Li tak tahan lagi, dan bertekad melakukan sesuatu. Ia pun pergi ke rumah sahabat ayahnya, Sinshe Wang, yang memiliki toko obat. Ia ceritakan kekeruhan di rumah dan mohon agar dibuatkan racun bagi si ibu mertua.

Sinshe Wang berpikir keras sejenak, lalu berkata: ''Li-Li, saya mau membantu menyelesaikan masalahmu, tapi kamu harus mendengarkan saya dan menaati apa yang saya sarankan.'' Jawab Li-Li: ''Baik, Pak Wang. Saya akan mengikuti yang Bapak katakan.'' Wang mengambil ramuan dan berpesan: ''Kamu tidak bisa memakai racun keras yang mematikan seketika untuk menyingkirkan ibu mertuamu, karena itu akan membuat orang jadi curiga. Saya memberimu ramuan beberapa jenis tanaman obat yang secara perlahan-lahan akan jadi racun dalam tubuhnya.''

Untuk itu, ''Setiap hari sediakan makanan yang enak-enak dan masukkan sedikit ramuan obat ini ke dalamnya. Lalu, supaya tidak ada yang curiga saat ia mati nanti, kamu harus hati-hati dan bersikaplah sangat bersahabat dengannya. Jangan berdebat dengannya, taati semua kehendaknya, dan perlakukan dia seperti seorang ratu,'' kata Wang. Li-Li sangat senang dan berterima kasih pada Wang. Buru-buru dia pulang untuk memulai rencana membunuh ibu mertua.

Minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu, Li-Li melayani mertuanya secara manusiawi. Disuguhkannya makanan lezat yang sudah ''dibumbui''. Pokoknya, sesuai petunjuk agar tak menimbulkan kecurigaan. Ia mulai belajar mengendalikan amarah, menaati perintah ibu mertua, dan memperlakukannya seperti ibu sendiri.

Enam bulan berlalu, dan suasana berubah drastis. Li-Li sudah mampu menguasai diri. Ia tak pernah kesal atau marah lagi. Ia juga tak pernah berdebat dengan ibu mertua. Begitu pula si ibu mertua. Jauh lebih ramah. Li-Li dianggap sebagai putri sendiri. Tak hanya itu, diceritakan pada kawan dan sanak famili bahwa Li-Li menantu paling baik yang ia peroleh.

Suatu hari, Li-Li menemui Sinshe Wang. ''Pak Wang, tolong saya untuk mencegah supaya racun yang saya berikan pada ibu mertua tidak sampai membunuhnya. Ia telah berubah jadi wanita sangat baik sehingga saya mencintainya, seperti ibu sendiri. Saya tidak mau ia mati karena racun yang saya berikan kepadanya,'' kata dia.

Wang tersenyum. Ia mengangguk-angguk, lalu berkata: ''Li-Li, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Saya tidak pernah memberi kamu racun. Ramuan yang saya berikan kepadamu itu hanyalah penguat badan untuk menjaga kesehatan.... Satu-satunya racun yang ada adalah yang terdapat dalam pikiranmu sendiri dan di dalam sikapmu terhadapnya. Tapi semua itu telah disapu bersih dengan cinta yang kamu berikan kepadanya.''

Cinta memang dahsyat. Pepatah Cina kuno mengatakan: ''Orang yang mencintai orang lain akan dicintai juga sebagai balasannya.'' Dan, itu sudah dibuktikan Li-Li, walau pada awalnya karena keterpaksaan.

Oleh Widi Yarmanto (Gatra)

06 February 2006

Atas Nama Kebebasan

Penerbitan majalah Playboy, jika nantinya jadi, sesungguhnya mempertegas kondisi bangsa ini. Kemaksiatan, pornografi, dan pornoaksi telah menyerbu dari sangat banyak pintu. Lepas tengah malam, sebagian televisi kita mempertontonkan acara-acara konyol beraroma busuk, yang dibungkus apa yang mereka sebut gaya hidup kota besar. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) --yang bertugas mengawasi cara-acara televisi-- mungkin terlalu sibuk dengan dirinya.

Dalam kemacetan Tol Tomang dari Meruya, penjaja tabloid porno dengan bebas menjual dagangannya. Mereka membuka halaman-halaman bergambar perempuan berbusana sangat minim. Tidak ada yang melarang mereka. Mereka bahkan menempelkan halaman tabloid porno itu di kaca mobil pengguna jalan tol. Bayangkan jika di dalam mobil ada anak-anak, apa yang dapat dilakukan orang tuanya pada saat itu?

Di hotel-hotel, sebagian besar prostitusi dibungkus dalam fasilitas pijat dan spa. Lihat pula acara-acara televisi di sebagian besar hotel-hotel itu? Ada yang menyediakan blue film dan televisi asing peragaan busana, yang serba terbuka. Diskotek-diskotek sebagian besar menjadi tempat pertunjukan dan transaksi seks. Di tempat-tempat umum, remaja-remaja mengenakan busana yang bagian perutnya terbuka. VCD porno dapat dibeli di pinggir-pinggir jalan seharga sebungkus rokok.

Ini tidak hanya di kota-kota besar. Di pelosok-pelosok Sumatra Utara dikenal pertunjukan organ tunggal untuk menghibur tamu dalam hajatan. Semakin malam, di atas pukul 01.00, biduanita tidak saja melenggok seperti Inul Daratista, tapi --di hadapan penonton segala usia dan bahkan anak dan ayah-- satu-satu mereka melepaskan busana hingga terbuka. Ini sudah berlangsung sejak lama. Aparat hukum dan bahkan pemuka agama tak dapat berbuat apa-apa. Mereka seakan telah kehilangan wibawa.

Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan kegusarannya melihat televisi mengumbar pusar perempuan, salah seorang aktivis perempuan justru mengkritik SBY. Dalam tulisannya di salah satu media massa nasional, aktivis tersebut menuding pemerintah telah campur tangan dalam urusan pusar perempuan. SBY dinyatakan telah melanggar prinsip pluralisme-demokrasi, melanggar kebebasan berekspresi.

Tidak itu saja, aktivis itu juga menyatakan Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi telah membuat demokrasi mati. Alasannya, negara tidak berhak sama sekali mengatur urusan pribadi perempuan, mengatur ruang keluarga, dan ranjang warga negara.

Begitulah jika demokrasi dan kebebasan telah menjadi agama baru, maka kepatuhan pada agama, ketakwaan, dan menjalankan seluruh nilai-nilainya, dianggap konservatif, melawan kebebasan berekspersi, dan bahkan dianggap tidak menghargai pluralisme. Demokrasi sesungguhnya tidak mati di tangan kaum yang menjunjung tinggi agama dan semua nilai-nilainya, melainkan mati lemas di tangan para pemujanya, yang memisahkannya dari seluruh nilai-nilai indah yang berlaku di masyarakat --seperti ikan dipisah dari air.

Pornografi dan pornoaksi telah masuk ke dalam banyak pintu rumah kita. Ia akan masuk dan terus menyelinap --dengan kekuatan dan dukungan para pemujanya-- ke setiap ruang, tak kecuali pada satu saat: Dia masuk ke gelas anak-anak kita, menetes, dan mengalir ke setiap pembuluh darah. Apakah kita membiarkannya atas nama kebebasan?

Oleh : Asro Kamal Rokan (Republika)

01 February 2006

Penyesalan yang Terlambat

Sesuatu baru disebut terlambat jika alam sudah berganti wujud. Kadir meratapi diri saat harus merelakan rumahnya berpindah tangan ke pemilik baru. Serentetan penyesalan bermain-main di pikirannya. Salah satu yang disesali adalah kala dia salah menginvestasikan modal di bisnis sembako yang dipercayakan kepada kawannya. "Duh, kenapa saya mempercayakan kepada dia!" Itulah penyesalan yang beberapa waktu terakhir membayangi kehidupan dia.
Kadir adalah pengusaha motor bekas. Berawal dari hanya jualan satu-dua motor, kemudian dia berhasil menjadi juragan motor. Mapan di bisnis motor, dia melirik usaha sembako. Ini gara-gara salah seorang pembeli motor memberitahu bahwa bisnis sembakonya berkembang dengan skema yang berbeda dengan sistem konvensional. ''Pasti untung,'' kata orang itu meyakinkan.
Istri Kadir ragu, dan melarang suaminya ikut-ikutan bisnis sembako. Bagi dia, usaha motor sudah cukup. Apa lagi yang dicari? Benar saja, Kadir ditipu. Awalnya, satu-dua transaksi berjalan lancar. Namun, setelah Kadir membenamkan sebagian besar uangnya, modal itu malah dibawa kabur. Dan, bukan hanya uang Kadir yang dibawa lari, uang milik sejumlah orang di kampungnya pun ikut raib.
Celakanya, yang membuat Kadir lebih menyesal, modal yang ditanamkan di bisnis tersebut bukan hanya uang miliknya, melainkan juga duit pinjaman. Nasib! Maka, untuk menutupi modal pinjaman yang dilarikan, Kadir terpaksa pindah ke rumah kontrakan. Sakit, memang.
Suatu hari, Kadir ikut pengajian Wisata Hati, dan diceramahi bahwa penyebab datangnya rezeki adalah rasa syukur. Sedangkan penyebab semua rezeki dicabut adalah kufur (lupa diri). Allah akan selalu menyediakan jalan kebaikan buat mereka yang bersyukur.
Sebaliknya, ada pula jalan keburukan yang Allah sediakan buat mereka yang lupa diri.
Tanda-tanda syukur itu mudah dilihat. Yaitu, bila beribadah hanya kepada Allah, berlaku benar, dan menjalin hubungan dengan orang lain secara baik. Adapun tanda-tanda lupa diri adalah bila ibadah pada Allah berkurang atau malah tidak pernah beribadah, dan hubungan pada sesama tiada bagus-bagusnya. Tingkat lupa diri ini makin parah bila enggan bersedekah alias pelit, serta serakah.
Mendengar ceramah itu, Kadir mengamini. Ia juga langsung instrospeksi mengapa usahanya jatuh bangkrut dan merugi. Dulu, kala yang dia jual baru satu-dua motor, ibadah salat tak pernah ditinggalkan. Malah, kadang ia sempatkan berjamaah di musala. Bisnis motor itu ia tekuni setelah dirinya di-PHK dari kantor. Namun, kala bisnisnya maju, ia justru sering telat salat. Bahkan beberapa kali kelewatan atau tidak salat. Salat sunah dan puasa sunah, yang dulu rajin dikerjakan, belakangan juga ditinggalkan karena dirasakan berat. Ia lebih syur memburu duniawi. Padahal, semua itu merupakan sebagian pertanda bahwa hati dia sedang dilanda penyakit. Penyakit hati!
Introspeksi Kadir melecut kembali kesadarannya bahwa bisnis dia yang jatuh bangkrut merupakan sentilan Allah. Dulu, sebagai karyawan dia memiliki seorang anak yatim. Begitu ia di-PHK, Allah menghadiahkan bisnis motor yang penghasilannya melebihi gajinya kala jadi pegawai. Anak yatim itulah yang menyelamatkan kehidupan ekonomi dia. Itu semua disadari Kadir.
Namun, terus terang, kesadaran tersebut tidak menambah kebersyukuran Kadir. Keimanan dia juga tidak bertambah. Terbukti, kala bisnis motornya maju, anak yatim yang disantuni masih tetap satu. Kadir pun tersenyum sendiri menyikapi kekeliruannya. Padahal, mestinya dengan bertambahnya penghasilan, jumlah yang disedekahkan juga meningkat. ''Kesenjangan'' itulah yang diingatkan oleh Allah.
Kadir mengamini mengapa ia jatuh bangkrut dan merugi. Ia kembali mengilas balik kehidupan. Rupanya, ada pula kebiasaan yang ditinggalkan: silaturahim! Dulu, pergi ke kerabat atau sanak famili adalah sesuatu yang nomor satu. Ia rutin mengunjungi keluarga sendiri maupun keluarga istri. Kebetulan rumah keluarga dia dan rumah keluarga istrinya hanya berbeda kampung. Saban minggu ia luangkan waktu untuk silaturahim. Juga berkunjung ke kawan-kawan. Mulai dari menengok yang sakit, melayat yang meninggal, maupun bentuk silaturahim lain. Tapi, begitu bisnisnya berkembang, ia merasa sayang meluangkan waktu. Waktu adalah uang.
Di pengajian Wisata Hati, Kadir masih mendengar ustad berbicara, "Bersyukurlah bila Allah mengingatkan. Mengingatkan dengan serangkaian kejadian yang mungkin dirasa tidak enak. Mengapa? Sebab Allah menghendaki kebaikan. Allah Maha Merindukan hamba-hamba-Nya. Ketika Dia mendapati hamba-Nya menjauh dari-Nya, Allah akan mencari jalan agar hamba-Nya itu kembali. 'Dan Kami timpakan sebagian buruk akibat buruk perbuatan seseorang adalah agar ia kembali' (Q.S. As-Sajdah: 21)."
"Dan bila Allah masih mau memperingatkan kita, itu pertanda kita masih disayang Allah. Bila kita saat ini sedang bermasalah, entah itu jatuh bangkrut, dililit utang, terkena penyakit, piutang tidak tertagih, sulit punya jodoh dan/atau belum punya keturunan, sedangkan kita tahu bahwa kita tidak bagus beribadah kepada Allah, dan tidak bagus berhubungan dengan manusia... cobalah perbaiki dulu. Insya Allah, perbaikan hidup akan terjadi seiring dengan perbaikan diri. Dan, belum bisa disebut terlambat, kecuali ajal sudah menjelang. Selama masih hidup, semua masih mungkin dikejar dan diperbaiki...."
Kadir mendengar, dan mudah-mudahan telinga kita pun mendengar. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Kehidupan yang buruk terlalu mudah bagi Allah untuk mengubah menjadi baik. Sebab kekuasaan ada di tangan Allah. Sampai ketemu di pembahasan berikutnya. Insya Allah, kita akan membahas "bagaimana keluar dari keterpurukan".

Oleh Yusuf Mansur
di majalah Gatra

First Posting

Alhamdulillah kesampaian juga niatan punya blog sendiri. Ini posting pertama gue. Sekedar buat ngetest aja.... mudah-mudahan bisa terus berlanjut