oleh: Yogas Wati
sumber: http://www.family-writing.com/
Ketika itu, akhir Desember 2001. Sebuah perjalanan berharga kami lakukan. Tias, anakku semata wayang yang lahir di Bandung dan besar di Jakarta, melakukan perjalanan panjang pertamanya. Waktu itu umurnya 3 tahun 10 bulan dan saat itu kami mo balik ke Aceh (Lhokseumawe), setelah si Abah selama 5 tahun menyelesaikan masa penugasannya di Jakarta (tapi sejak pertengahan 2005 kami telah pulang kampung kembali ke Bdg, dan ntah mau rantau ke mana lagi).
Mau naik pesawat untuk yang pertama kali ia senaaang sekali. Sepanjang perjalanan dari rumah hingga di bandara, saat menunggu pemberangkatan, ia senantiasa bernyanyi-nyanyi, dan asyik main sendiri, mengeksplorasi lingkungan sekitar sambil terlihat mengobrol sendiri, memainkan jari, duduk dipojok sana-sini, tenggelam dalam imajinasi…
Kami hanya mengawasi dari kejauhan sambil merasakan kegembiraan yang ia rasakan..
Di pesawat, ia memilih tempat dekat jendela. Ketika pesawat berada di tengah bongkahan awan, yang bak salju berwarna putih abu keperakan ditimpa cahaya matahari pagi… . kadang juga terkesan seperti hamparan kapas yang membentuk gerombol-gerombol raksasa seperti bunga kol. Di sebagiannya seperti menampakkan gua-gua dan di sebagiannya menghampar luas tak berbatas, bak Padang Masyhar? sungguh menakjubkan.
Hening, kami tenggelam dalam imajinasi masing-masing. Dalam hati, tiap memandangi kehebatan pemandangan awan ini, saya berdzikir..Subhanallah Walhamdulillah Walaaailaaha Illallah Wallaahu Akbar.
Tiba-tiba , Tias mengagetkanku, dengan pertanyaan, “Bu…, di awan sana ada Alloh ya?!”.
Iya, jawabku.
“Ada malaikat-malaikat juga ya Bu?!”
Iya, jawabku lagi, pendek, sambil bergumam dalam hati , “Tias, kamu juga ngerasain ya, melihat pemandangan yang menakjubkan ini jadi teringat Allah”.
Selagi pikiranku menerawang begitu, ia berceloteh lagi, “Bu, kalau Allah ditembak Ia pasti jatuh ya!!”
Hah…, aku agak terperanjat.
“Ya, nggaklah!” kataku. “Alloh itu Maha Hebat, mana ada dia bisa jatuh ditembak!”
“Iya..!!.” katanya.
“Tidaklah Nak” jawabku lagi, tidak kreatif.
“Ah, iya, pasti Jatuh..!!” anakku mempertahankan logika pemikirannya.
Ah, otakku ini memang tumpul, dikagetkan dengan pertanyaan mendadak seperti begini aku belum bisa menjawabnya. Lagi pula akupun cape, dan ngantuuk sekali, lagi malas memeras pikiran untuk ngejelas-jelasin. Jadi aku abaikan saja…
Selama ini aku memang baru mengenalkan Allah kepada Tias dengan Asmanya yang Maha Penyayang, telah memberi kita rejeki, mainan, ibu untuk Tias, maka Tias pun harus bersukur dan penyayang seperti Beliau, mau berbagi dengan teman, nggak nakal sama ibu, dll. Ya..kaya begitu-begitulah.
Tapi aku belum pernah mencoba mengenalkan atau mengajaknya untuk memikirkan “Sosok Allah”, karena hal ini juga hanya pernah aku pikirkan beberapa saat di waktu muda dulu, itu pun tidak terlalu mengkritisi. Lagian anakku juga masih kecil, belum kepikiran cerita ke sana.
Waktu berlalu…
Beberapa bulan kemudian, sekitar 4 tahun 2 bulan, ketika kami sedang bermain bersama di rumah, ia mengajukan lagi pertanyaan tentang Allah.
Tanyanya, “Bu Allah, itu matanya banyak ya…”
Ya nggaklah, jawabku lagi-lagi tergagap.
“Kan Allah bisa melihat dimana-mana,” sambung anakku cepat.
“Iya, Alloh memang Maha Melihat, Ia bisa tahu keadaan yang ada di Bandung, di kantor Abah, di rumah kita, dll, tapi mata Allah nggak kaya mata kita manusia..” jawabku sekenanya.
Sejujurnya aku cukup bingung, belum rajin baca-baca literatur “Bab menerangkan keberadaan Allah pada Anak”.
“Kepala Allah itu pasti besaaar sekali ya Bu!” lagi-lagi anakku mengeluarkan stigma-stigma yang sedang berseliweran di pemikirannya.
Tawaku hampir meledak, geli, membayangkan bagaimana ia membayangkan. Tapi, Oh…lagi-lagi pikiranku tumpul, gak siap dengan pertanyaan-pertanyaan begini dari anakku. dan aku hanya menjawab, dengan bantahan yang itu-itu juga, “Ya nggaklah, Allah tidak berkepala seperti kita….Allah itu berbeda dengan kita. Ia tidak bisa dibayangkan dan tidak bisa dilihat oleh mata kita.”
Anakku tampak bingung, aku melanjutkan lagi, “Nah seperti angin…Nih… (aku meniupnya). Adakan?” tanyaku.
Tias mengangguk, “Tapi gak kelihatan kan?!” tanyaku lagi kepadanya.
Tias diam. ” Jadi Alloh juga seperti itu, Dia ada, tapi tak bisa dilihat.”
“Alloh itu laki-laki apa perempuan Bu?” tanya anakku tampaknya masih penasaran.
“Ya Alloh itu gak laki-laki, gak perempuan. Yang ada jenis kelaminnya itu kan hanya kita manusia yang Allah ciptakan, tapi Allah sendiri mah yang menciptakan kita, gak berjenis kelamin” (padahal aku juga ragu arti jenis kelamin bila dikaitkan dengan mudzakar - muannasnya kata yang digunakan dalam Al-Qur’an. Tak tahulah ilmuku juga sangat terbatas)
Tias cemberut. Aku mencoba mencari penjelasan tambahan, “Adakan di dunia ini juga yang tidak berjenis kelamin. Coba kamu perhatikan hayoo… tembok, kursi, .. dia laki-laki apa perempuan ? nggak kan? Nah jadi Allah juga begitu, Ia tidak berjenis kelamin…”
Belum lagi aku dapat menemukan kata-kata lengkap yang dapat menjawab kepenasaran pikiran anakku, ia telah menungkas dengan nada tinggi, kesal dan mungkin marah, “Tahulah, Tias! Allah itu jelek! Nggak punya mata, nggak punya kepala!!!”
Aku terdiam. Aku terperangah. Tapi aku sadar, ia kecewa dengan jawaban-jawabanku.
Betapa kecewanya anakku, menerima jawaban-jawabanku, yang tak dapat ia susun ke dalam pengertiannya menjadi sebuah penjelasan utuh yang menerangkan.
Aku beristighfar di dalam hati, “Ya Alloh, maafkanlah kami. Maafkanlah Anakku yang telah melontarkan kata-kata kasar terhadap-Mu karena ketidaktahuannya. Dan ampunilah hamba yang tidak dapat memberikan penjelasan yang menunjukkan KebenaranMu kepadanya”.
Aku amat sedih sekali. Kasihan melihat kekecewaan anakku yang tidak mendapat kepuasaan tentang “Sosok Allah” yang ia coba ingin kenali. Dan aku kecewa kepada diriku sendiri yang belum mampu memberinya penjelasan yang bisa ia fahami.
Tengah malam aku terbangun, shalat dan memohon petunjuk-Nya agar aku diberi pengetahuan agar dapat memperkenalkan DiriNYA dengan benar kepada anakku.
Alloh memberiku INSIGHT, Alhamdulillah.
Keesokan harinya, selepas ia pulang dari TK, aku memohon maaf padanya. Aku katakan padanya, “Tias, ibu minta maaf atas kejadian kemarin. Ibu tidak dapat menjelaskan padamu seperti apa Allah itu. Karena Ibu pun tidak tahu. Ibu sendiri tidak pernah melihat Allah. Dan tidak ada seorangpun yang pernah dan dapat melihat Allah, sekalipun nabi Muhammad. Sehingga siapapun yang ditanya seperti apakah Allah itu pasti tidak akan ada yang bisa menjawabnya. Tapi Alloh itu Ada, hanya Dia tak dapat dilihat oleh mata kita, karena keterbatasan mata”.
Lalu aku mengajaknya untuk masuk dan melihat isi kamarnya, dan menyebutkan nama-namanya. Kemudian aku mengajaknya ke luar kamar, dan memintanya menunjukkan isi ruang kerja Abah, dari balik tembok, setepat ketika ia masuk dan menunjukkan isi kamarnya.
Dia gak bisa. Lalu ku tanya kenapa? “Terhalang tembok,” katanya.
Di situ aku tunjukkan, itulah keterbatasan mata manusia. Terhalang tembok aja kita dah gak bisa tahu lagi apa yang ada di belakangnya. Mata kita tidak dapat melihat segala.Lalu aku mengajaknya mengintip dari jendela kamar, pemandangan di luar, ke pekarangan rumah kami. Kami biasa bercerita di sana sambil menikmati pemandangan dari dalam ke luar yang indah…, sedang kalau siang-siang ke luar, udara di luar sangat panas..
Di luar sana ada pohon mangga yang sedang berbuah banyak. Aku mengajaknya mengingat-ngingat kembali ketika buah-buah itu masih berbentuk bunga, lalu rontok, jadi buah kecil, buah besar yang mentah, hingga jadi buah yang masak dan dipetik lalu dimakan wow enak… Aku bertanya kepadanya, siapa yang melakukan semua ini?
Ibukah? Abahkah? Tiaskah? atau orang lain? gak ada.. Gak ada orang yang bisa melakukan ini. Kalau dicoba, melakukan juga yang seperti ini (membuat mangga) gak ada yang bisa, paling kita manusia bisanya bikin lukisan pohon atau buah mangga, atau membuat mangga-manggaan dari kayu maupun plastik, sebagai hiasan atau mainan. Tapi ini Kok ada? pohon buah dan buah ini ada? Inilah, inilah Allah yang membuatnya. Apa kelihatan tangan-tangan Allah (sambil kumainkan jemariku) membuat bunga jadi buah kecil, dan jadi besar? Nggak juga kan?”
Itulah, karena Allah tidak kelihatan dan Ia pun tidak memiliki tangan-tangan seperti kita. Allah tidak sama dengan manusia. Tapi Allah ada. Buktinya mangga-mangga ini jadi ada kan yang tadinya tidak ada. Dibuat oleh Allah. Ia membuat sesuatu dengan sangat Hebat, bila Allah sudah berkehendak untuk membuat mangga, “maka akan jadilah mangga”.
“Ia lakukan semua ini karena sangat sayangnya….pada kita. Ia buatkan untuk kita buah-buahan yang enak, segar, bervitamin, seperti apa lagi ayo….”
Lalu dia menyebutkan berbagai macam buah, juga sayur dan makanan lain yang lezat.
“Jadi Tias sayang gak sama Allah, yang telah begitu baik sama kita membuatkan bermacam-macam buah dan makanan?”
Ia menjawab dengan semangat, “Sayang…!!”
Aku juga mengajaknya merenungkan apa yang terjadi di perutku. Saat itu aku sedang hamil anakku yang keenam (oh..andai dia ada). Kuajak dia memikirkan, dari saat di perutku itu belum ada apa-apa, sampai dinyatakan hamil oleh suster yang memeriksa. “Waktu itu gak kelihatan ada apa-apa, lalu perut Ibu membuncit, membesaar…, hingga ada sesuatu yang kini sering bergerak-gerak, bisa dirasakan oleh Tias, yakin ada isi ade bayi di perut ibu. Itulah si ade bayi yang Allah tumbuhkan di perut Ibu. Dan Allah melakukannya, membuatnya, tapi hebatnya….gak kelihatan oleh kita.”
Kalau Ibu bikin kue aja, atau Tias bikin masak-masakan dedaaunan, uh… berantakannya.. Tapi Allah tidak. Ia membuat segala sesuatu tanpa terlihat oleh kita, tapi hasilnya jelas terlihat oleh kita. Dan hasilnya luar biasa dapat dinikmati oleh kita dan tak dapat ditiru oleh kita.
Setelah menunjukkan hasil karya Allah, kukatakan, “Nah, sekarang Tias bisa tahu Allah itu ada kan?” tanyaku.
” Iya”, jawabnya mantap.
Aku melanjutkan, tapi seperti apa Allah itu rupanya, kita tidak ada yang tahu, karena mata kita terbatas…tidak bisa melihatnya, dan hanya Allah sendiri saja yang tahu seperti apa rupa Allah. Nah ini kita katakan sebagai “Wallahualam bi sawab” artinya hanya Alloh sendiri saja yang tahu..
Alhamdulillah ia tampak mengerti dan puas.
Suatu hari lain - mungkin terinspirasi oleh filmnya Harun Yahya yang kami tonton bersama tentang penciptaan alam semesta, dia berargumen, ” Bu…, waktu bumi ini belum diciptakan, kita pasti bisa melihat Allah ya?!”
“Kenapa?” aku balik tanya.
“Kan belum ada langitnya,” jawabnya. Maksudnya belum ada langit yang menghalangi pemandangan kita ke atas sana. Karena mungkin aku pernah juga cerita Allah itu ada di atas Arasy, yang merupakan kerajaanNya, jadi kita sering berkonotasi Allah itu memang di atas.
Lalu jawab ku “Mana kita tahu, waktu bumi belum diciptakan, manusianya juga kan belum ada, jadi apa tuh…”.
“Wallahualam bi sawab” jawabnya dengan tangkas.
“Iya, benar sayang… Wallahualam bi sawab. Hanya Allah sendiri saja yang tahu,” kataku haru..
Robbii hablii milladunka dzurriatan toyyibah,innaka antasamii’uddu’aaa.Amin.
18 September 2007
Bagaimana Bayi dan Anak-Anak Belajar?
Sumber : http://www.family-writing.com/
Gordon Dryden & Dr. Jeannette Vos dalam bukunya The Learning Revolution, mengungkapkan fakta-fakta yang sangat mengejutkan.
Saat ini, katanya, berbagai metoda belajar tengah berkembang pesat di seluruh dunia, sehingga setiap anak akan mampu mempelajari apapun secara lebih cepat –sekitar 5 sampai 20 kali lebih cepat– bahkan 10 sampai 100 kali lebih efektif, pada usia berapapun. Metoda-metoda itu ternyata sederhana, mudah dipelajari, menyenangkan, logis – dan terbukti andal.
Inilah beberapa fakta itu. Di Christchurch, Selandia Baru, Michael Tan berhasil lulus ujian matematika tingkat smu pada usia 7 tahun. Dan Stephen Witte, 12 tahun lulus enam ujian beasiswa universitas dan berhasil meraih hadiah fisika dari SMU Papanui, tidak lama setelah diizinkan melompati empat kelas.
Di Alaska, para pelajar di SMU MT. Edgecumbe menjalankan empat perusahaan proyek percontohan. Salah satu proyeknya: ekspor salmon asap ke Jepang senilai us$ 600.000– mereka sekaligus belajar ilmu pemasaran, bisnis, ekonomi dan Bahasa Jepang.
Di SD Pantai Tahatai Di Selandia Baru, anak-anak berusia 6 tahun menggunakan komputer untuk membuat cd-rom dan merencanakan “sekolah masa depan” mereka sendiri. Mereka juga menggunakan komputer untuk mengaktifkan unit-unit pembangkit energi surya dan angin yang didesain agar setiap rumah mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri.
Ternyata pembelajaran mandiri adalah salah satu kunci utama. Jika kita bisa menyediakan lingkungan dan peralatan yang baik untuk pelatihan mandiri, anak-anak kecil pun akan menjadi pendidik mandiri yang antusias sepanjang hidupnya.
Maria Montessori, dokter wanita pertama asal Italia, telah menyediakan lingkungan semacam itu hampir 100 tahun lalu, membuktikan bahwa anak-anak usia 3 – 4 tahun dengan mental terbelakang, mampu berkembang baik dalam hal menulis, membaca, dan perhitungan dasar. Dan sampai sekarang ini di daerah terpencil Montana, negara bagian Amerika yang berpenduduk paling jarang, semua anak berusia 4 tahun di taman bermain Montessori International telah mampu mengeja, membaca, menulis dan melakukan hitungan dasar, bahkan sebelum mereka masuk sekolah. Saat ini mereka mencanangkan pada usia 4 tahun itu anak-anak bahkan sudah mampu menguasai tiga atau empat bahasa!
Bagaimana dengan anak-anak kita?
Lihatlah betapa banyak orang tak menyadari bahwa mereka telah “merusak” potensi hidup anaknya. Lihatlah anak-anak kita sekarang. Dimana mereka pada sebagian besar waktu hidupnya? Di depan televisi-kah? Main seharian dengan anak-anak lainkah? Apa yang mereka pelajari? Siapa guru-guru mereka? Siapa idola mereka? Apa kata-kata yang meluncur dari pikirannya?
Ternyata, semua ini bergantung bagaimana ia dididik sejak awal kelahirannya! Kita tahu, setiap anak, anak negara manapun, anak siapapun adalah pemilik otak terhebat di dunia. Walaupun beratnya kurang dari 1,5 kg, kemampuan otaknya beribu kali lebih hebat dari super komputer terhebat di dunia. Dan anak-anak kita pun memilikinya! Masing-masing terdiri dari otak sadar dan otak bawah sadar.
Otak sadar aktif saat kita sengaja melakukan sesuatu. Sedangkan otak bawah sadar selalu aktif 24 jam sehari terus menerus. Ia bekerja sejak bayi masih dalam kandungan sampai kita dewasa dan mati.
Dari berbagai hasil penelitian ditemukan bahwa ternyata di bawah sadar inilah “terinstall” semua potensi hidup kita, yang nantinya akan keluar dalam bentuk sikap, nilai hidup, skill, kecerdasan, kepribadian dan kebiasaan.
Salah satu sifat otak bawah sadar ini adalah “tidak kritis”. Jadi apapun input yang masuk ke dalamnya akan tetap disimpan dan dianggap benar. Beda dengan otak sadar … ia kritis. Oleh karena itulah yang harus kita waspadai justru input-input yang bakal masuk lewat pintu otak bawah sadar ini.
Benyamin s. Bloom, professor pendidikan dari universitas chicago, menemukan fakta yang cukup mengejutkan:- Ternyata 50% dari semua potensi hidup manusia terbentuk ketika kita berada dalam kandungan sampai usia 4 tahun.- Lalu 30 % potensi berikutnya terbentuk pada usia 4 – 8 tahun.
Ini berarti 80% potensi dasar manusia terbentuk di rumah, justru sebelum mulai sekolah. Akan seperti apa kemampuannya, nilai-nilai hidupnya, kebiasaannya, kepribadiannya, akhlaqnya, dan sikapnya … 80% tergantung pada orang tua. Baik “dibentuk” secara sengaja atau pun tidak sengaja!
Artinya, akan jadi siapa anak kita, akan bagaimana cara berpikir dan bersikapnya ditentukan sepenuhnya oleh informasi dan pengetahuan apa yang tersimpan di otak bawah sadarnya. Panca indera adalah pintu masuk yang langsung masuk ke pusat kecerdasan anak.
Apapun yang ia dengar, apapun yang ia lihat, apapun yang ia rasakan, semua langsung tersimpan di otak bawah sadarnya.
Ia juga belajar tentang sikap dan kepribadian dari orang-orang yang mengasuhnya. Bagaimana ayah ibunya berbicara, apa yang dikatakan, bagaimana ia bereaksi terhadap emosi-emosi tertentu, bagaimana orangtua bereaksi terhadap tekanan amarah, tangisan, dan kerewelan. Semua bahasa komunikasi anak (dalam bentuk gerakan, tangisan dan kerewelan) adalah alat-alat ia belajar.
Lantas, apakah bisa kita menghasilkan “anak hebat” hanya dengan cara mendidik “ala kadarnya”? Dengan “semaunya”, secara naluriah belaka? Tentu tidak bukan.
Hal pertama yang langsung kita sadari adalah, sebagai ayah dan ibu, kita adalah guru anak-anak kita. Baik kita melakukannya dengan benar ataupun “nggak sengaja” salah.
Pertanyaan berikutnya, sudah tahukah kita kurikulum apa yang sedang berlangsung pada usia 0 – 4 tahun atau 8 tahun perkembangan pendidikan anak-anak kita?
Ternyata, kebanyakan orang tua tidak punya “kurikulum” pendidikan usia-dini ini. Tentu tak heran akhirnya kurikulum alamiah lah yang diterapkan. Kurikulum yang akhirnya dipelajari anak-anak kita adalah kurikulum-alamiah yang diciptakan oleh lingkungan tempat kita saat ini hidup dan berada. Lewat program-program televisi, pergaulan di sekitar rumah kita, juga pergaulan antar penghuni di dalam rumah tangga kita sendiri.
Apa yang “diajarkan” (tanpa sengaja) pada bayi dan anak-anak kita?
Secara keilmuan bisa jadi masih kosong! Bagaimana dengan sikap? Tak dapat dibendung, ternyata banyak sekali hal negatif yang “dipelajari” anak-anak kita.
Lalu adakah kegiatan-kegiatan pembelajaran secara sengaja? By design? Hampir tidak ada. Ada semacam “keyakinan” yang telah jadi paradigma kuat dalam pikiran para orang tua, bahwa anak-anak “bersekolah” ya dimulai sejak TK ! Sehingga mengabaikan proses belajar mengajar “yang umumnya tak sengaja” yang justru berlangsung setiap detik di rumah kita. Bahkan anehnya tak sedikit yang tega menyerahkan bayi dan anak-anaknya itu “berguru” kepada para pembantunya.
Jika kita mulai menyadari fakta-fakta ini, ada beberapa tindakan yang bisa segera kita lakukan, jika memang kita ingin berubah:
1. Orang tua (ayah dan ibu), harus belajar semua hal yang berhubungan dengan metoda-metoda pendidikan anak
Pada dasarnya orang tua adalah guru terpenting dan rumah adalah sekolah paling penting. Didiklah anak dengan ilmu. Kenali dan rancang kurikulum sendiri untuk keperluan ini. Apa muatan sikap dan perilaku yang ingin kita hasilkan pada balita kesayangan kita, dan bagaimana caranya. Bagaimana pula caranya kita menanamkan aqidah Islam pada balita kita. Apa yang boleh kita lakukan dan apa yang jangan kita lakukan. Kuncinya belajar! Orang tua lah yang harus belajar.
2. Kenali dan kendalikan jenis input informasi (ucapan/penglihatan/pendengaran/pergaulan) yang masuk lewat pintu otak bawah sadar balita kita.
Jika kita sadar ini, maka programkan secara sengaja muatan positif. Install-kan program-program positif ke dalam otak bawah sadar anak-anak kita. Sebagai contoh televisi. Kendalikan keinginan kita nonton acara tv bersama anak-anak bila memang acaranya tidak baik bagi anak-anak kita.
Kenali juga bahwa input positif bisa berasal dari pendengaran. Maka kendalikan kata-kata kita. Apapun situasinya, jaga mulut! “katakan yang baik-baik saja, atau kalau tidak lebih baik diam”, pesan Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya. “…fal yakun khairan au lisashmut”!
Juga program/install otak balita kita dengan input yang disengaja. Misalkan tatkala menidurkan bayi kita, apa salahnya kita memperdengarkan ayat-ayat al qur’an kepada bayi, baik melalui kaset maupun kita sendiri yang membacakannya.
Percayalah semua input yang disengaja ini membekas dan terinstall dengan baik di otak bawah sadar anak-anak kita.
Programkan dengan sengaja! Itu sebabnya kita perlu punya kurikulum! Ini bukan berarti kita mau mendikte “masa depan profesi anak kita”. Sama sekali tidak. Apapun jalan hidup dia nanti setelah dewasa, terserah dia. Yang kita bentuk secara sengaja adalah potensi dasar “human being”-nya. Sikapnya, perilakunya, kebiasaannya, potensi aqidahnya. Bukankah ini memang wajib! Bagi setiap orang tua untuk mendidik anaknya agar menjadi hamba Allah dan khalifah-nya di muka bumi ini?
Ada beberapa contoh tindakan, misalnya dengan membacakan buku-buku cerita-cerita ilahiyah, kenalkan Allah dan segala konsep ilahiyah lainnya, lalu kisah-kisah perjuangan rasulullah dan para sahabat, dan berbagai kisah-kisah positif lainnya. Semua kisah itu akan membekas amat dalam ke dalam jiwa anak-anak kita!
Insyaallah, jika betul-betul kita serius, bukan tidak mungkin yang akan kita lahirkan nanti adalah calon-calon pemimpin dunia! Dari tangan didikan kita lahirlah para jenderal, para profesor, para ilmuwan yang mampu mengubah dunia ini berada dalam ridlo Allah SWT. Amin ya allah ya rabbal ‘alamiin.
Gordon Dryden & Dr. Jeannette Vos dalam bukunya The Learning Revolution, mengungkapkan fakta-fakta yang sangat mengejutkan.
Saat ini, katanya, berbagai metoda belajar tengah berkembang pesat di seluruh dunia, sehingga setiap anak akan mampu mempelajari apapun secara lebih cepat –sekitar 5 sampai 20 kali lebih cepat– bahkan 10 sampai 100 kali lebih efektif, pada usia berapapun. Metoda-metoda itu ternyata sederhana, mudah dipelajari, menyenangkan, logis – dan terbukti andal.
Inilah beberapa fakta itu. Di Christchurch, Selandia Baru, Michael Tan berhasil lulus ujian matematika tingkat smu pada usia 7 tahun. Dan Stephen Witte, 12 tahun lulus enam ujian beasiswa universitas dan berhasil meraih hadiah fisika dari SMU Papanui, tidak lama setelah diizinkan melompati empat kelas.
Di Alaska, para pelajar di SMU MT. Edgecumbe menjalankan empat perusahaan proyek percontohan. Salah satu proyeknya: ekspor salmon asap ke Jepang senilai us$ 600.000– mereka sekaligus belajar ilmu pemasaran, bisnis, ekonomi dan Bahasa Jepang.
Di SD Pantai Tahatai Di Selandia Baru, anak-anak berusia 6 tahun menggunakan komputer untuk membuat cd-rom dan merencanakan “sekolah masa depan” mereka sendiri. Mereka juga menggunakan komputer untuk mengaktifkan unit-unit pembangkit energi surya dan angin yang didesain agar setiap rumah mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri.
Ternyata pembelajaran mandiri adalah salah satu kunci utama. Jika kita bisa menyediakan lingkungan dan peralatan yang baik untuk pelatihan mandiri, anak-anak kecil pun akan menjadi pendidik mandiri yang antusias sepanjang hidupnya.
Maria Montessori, dokter wanita pertama asal Italia, telah menyediakan lingkungan semacam itu hampir 100 tahun lalu, membuktikan bahwa anak-anak usia 3 – 4 tahun dengan mental terbelakang, mampu berkembang baik dalam hal menulis, membaca, dan perhitungan dasar. Dan sampai sekarang ini di daerah terpencil Montana, negara bagian Amerika yang berpenduduk paling jarang, semua anak berusia 4 tahun di taman bermain Montessori International telah mampu mengeja, membaca, menulis dan melakukan hitungan dasar, bahkan sebelum mereka masuk sekolah. Saat ini mereka mencanangkan pada usia 4 tahun itu anak-anak bahkan sudah mampu menguasai tiga atau empat bahasa!
Bagaimana dengan anak-anak kita?
Lihatlah betapa banyak orang tak menyadari bahwa mereka telah “merusak” potensi hidup anaknya. Lihatlah anak-anak kita sekarang. Dimana mereka pada sebagian besar waktu hidupnya? Di depan televisi-kah? Main seharian dengan anak-anak lainkah? Apa yang mereka pelajari? Siapa guru-guru mereka? Siapa idola mereka? Apa kata-kata yang meluncur dari pikirannya?
Ternyata, semua ini bergantung bagaimana ia dididik sejak awal kelahirannya! Kita tahu, setiap anak, anak negara manapun, anak siapapun adalah pemilik otak terhebat di dunia. Walaupun beratnya kurang dari 1,5 kg, kemampuan otaknya beribu kali lebih hebat dari super komputer terhebat di dunia. Dan anak-anak kita pun memilikinya! Masing-masing terdiri dari otak sadar dan otak bawah sadar.
Otak sadar aktif saat kita sengaja melakukan sesuatu. Sedangkan otak bawah sadar selalu aktif 24 jam sehari terus menerus. Ia bekerja sejak bayi masih dalam kandungan sampai kita dewasa dan mati.
Dari berbagai hasil penelitian ditemukan bahwa ternyata di bawah sadar inilah “terinstall” semua potensi hidup kita, yang nantinya akan keluar dalam bentuk sikap, nilai hidup, skill, kecerdasan, kepribadian dan kebiasaan.
Salah satu sifat otak bawah sadar ini adalah “tidak kritis”. Jadi apapun input yang masuk ke dalamnya akan tetap disimpan dan dianggap benar. Beda dengan otak sadar … ia kritis. Oleh karena itulah yang harus kita waspadai justru input-input yang bakal masuk lewat pintu otak bawah sadar ini.
Benyamin s. Bloom, professor pendidikan dari universitas chicago, menemukan fakta yang cukup mengejutkan:- Ternyata 50% dari semua potensi hidup manusia terbentuk ketika kita berada dalam kandungan sampai usia 4 tahun.- Lalu 30 % potensi berikutnya terbentuk pada usia 4 – 8 tahun.
Ini berarti 80% potensi dasar manusia terbentuk di rumah, justru sebelum mulai sekolah. Akan seperti apa kemampuannya, nilai-nilai hidupnya, kebiasaannya, kepribadiannya, akhlaqnya, dan sikapnya … 80% tergantung pada orang tua. Baik “dibentuk” secara sengaja atau pun tidak sengaja!
Artinya, akan jadi siapa anak kita, akan bagaimana cara berpikir dan bersikapnya ditentukan sepenuhnya oleh informasi dan pengetahuan apa yang tersimpan di otak bawah sadarnya. Panca indera adalah pintu masuk yang langsung masuk ke pusat kecerdasan anak.
Apapun yang ia dengar, apapun yang ia lihat, apapun yang ia rasakan, semua langsung tersimpan di otak bawah sadarnya.
Ia juga belajar tentang sikap dan kepribadian dari orang-orang yang mengasuhnya. Bagaimana ayah ibunya berbicara, apa yang dikatakan, bagaimana ia bereaksi terhadap emosi-emosi tertentu, bagaimana orangtua bereaksi terhadap tekanan amarah, tangisan, dan kerewelan. Semua bahasa komunikasi anak (dalam bentuk gerakan, tangisan dan kerewelan) adalah alat-alat ia belajar.
Lantas, apakah bisa kita menghasilkan “anak hebat” hanya dengan cara mendidik “ala kadarnya”? Dengan “semaunya”, secara naluriah belaka? Tentu tidak bukan.
Hal pertama yang langsung kita sadari adalah, sebagai ayah dan ibu, kita adalah guru anak-anak kita. Baik kita melakukannya dengan benar ataupun “nggak sengaja” salah.
Pertanyaan berikutnya, sudah tahukah kita kurikulum apa yang sedang berlangsung pada usia 0 – 4 tahun atau 8 tahun perkembangan pendidikan anak-anak kita?
Ternyata, kebanyakan orang tua tidak punya “kurikulum” pendidikan usia-dini ini. Tentu tak heran akhirnya kurikulum alamiah lah yang diterapkan. Kurikulum yang akhirnya dipelajari anak-anak kita adalah kurikulum-alamiah yang diciptakan oleh lingkungan tempat kita saat ini hidup dan berada. Lewat program-program televisi, pergaulan di sekitar rumah kita, juga pergaulan antar penghuni di dalam rumah tangga kita sendiri.
Apa yang “diajarkan” (tanpa sengaja) pada bayi dan anak-anak kita?
Secara keilmuan bisa jadi masih kosong! Bagaimana dengan sikap? Tak dapat dibendung, ternyata banyak sekali hal negatif yang “dipelajari” anak-anak kita.
Lalu adakah kegiatan-kegiatan pembelajaran secara sengaja? By design? Hampir tidak ada. Ada semacam “keyakinan” yang telah jadi paradigma kuat dalam pikiran para orang tua, bahwa anak-anak “bersekolah” ya dimulai sejak TK ! Sehingga mengabaikan proses belajar mengajar “yang umumnya tak sengaja” yang justru berlangsung setiap detik di rumah kita. Bahkan anehnya tak sedikit yang tega menyerahkan bayi dan anak-anaknya itu “berguru” kepada para pembantunya.
Jika kita mulai menyadari fakta-fakta ini, ada beberapa tindakan yang bisa segera kita lakukan, jika memang kita ingin berubah:
1. Orang tua (ayah dan ibu), harus belajar semua hal yang berhubungan dengan metoda-metoda pendidikan anak
Pada dasarnya orang tua adalah guru terpenting dan rumah adalah sekolah paling penting. Didiklah anak dengan ilmu. Kenali dan rancang kurikulum sendiri untuk keperluan ini. Apa muatan sikap dan perilaku yang ingin kita hasilkan pada balita kesayangan kita, dan bagaimana caranya. Bagaimana pula caranya kita menanamkan aqidah Islam pada balita kita. Apa yang boleh kita lakukan dan apa yang jangan kita lakukan. Kuncinya belajar! Orang tua lah yang harus belajar.
2. Kenali dan kendalikan jenis input informasi (ucapan/penglihatan/pendengaran/pergaulan) yang masuk lewat pintu otak bawah sadar balita kita.
Jika kita sadar ini, maka programkan secara sengaja muatan positif. Install-kan program-program positif ke dalam otak bawah sadar anak-anak kita. Sebagai contoh televisi. Kendalikan keinginan kita nonton acara tv bersama anak-anak bila memang acaranya tidak baik bagi anak-anak kita.
Kenali juga bahwa input positif bisa berasal dari pendengaran. Maka kendalikan kata-kata kita. Apapun situasinya, jaga mulut! “katakan yang baik-baik saja, atau kalau tidak lebih baik diam”, pesan Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya. “…fal yakun khairan au lisashmut”!
Juga program/install otak balita kita dengan input yang disengaja. Misalkan tatkala menidurkan bayi kita, apa salahnya kita memperdengarkan ayat-ayat al qur’an kepada bayi, baik melalui kaset maupun kita sendiri yang membacakannya.
Percayalah semua input yang disengaja ini membekas dan terinstall dengan baik di otak bawah sadar anak-anak kita.
Programkan dengan sengaja! Itu sebabnya kita perlu punya kurikulum! Ini bukan berarti kita mau mendikte “masa depan profesi anak kita”. Sama sekali tidak. Apapun jalan hidup dia nanti setelah dewasa, terserah dia. Yang kita bentuk secara sengaja adalah potensi dasar “human being”-nya. Sikapnya, perilakunya, kebiasaannya, potensi aqidahnya. Bukankah ini memang wajib! Bagi setiap orang tua untuk mendidik anaknya agar menjadi hamba Allah dan khalifah-nya di muka bumi ini?
Ada beberapa contoh tindakan, misalnya dengan membacakan buku-buku cerita-cerita ilahiyah, kenalkan Allah dan segala konsep ilahiyah lainnya, lalu kisah-kisah perjuangan rasulullah dan para sahabat, dan berbagai kisah-kisah positif lainnya. Semua kisah itu akan membekas amat dalam ke dalam jiwa anak-anak kita!
Insyaallah, jika betul-betul kita serius, bukan tidak mungkin yang akan kita lahirkan nanti adalah calon-calon pemimpin dunia! Dari tangan didikan kita lahirlah para jenderal, para profesor, para ilmuwan yang mampu mengubah dunia ini berada dalam ridlo Allah SWT. Amin ya allah ya rabbal ‘alamiin.
Subscribe to:
Comments (Atom)