15 June 2006

Tolong, Jawab Cucu Saya

Sungguh tidak mudah menjelaskan perihal gempa bumi kepada seorang cucu yang baru berusia enam tahun. Bagaimana mungkin mengatakan kepadanya bahwa gempa merupakan gejala alam akibat adanya gesekan antara dua lempeng kerak bumi.

Atau akibat adanya pelepasan energi ketika sebuah gunung api memuntahkan isi perutnya. Repotnya, seorang kakek punya kewajiban memuaskan kuriositas atau rasa ingin tahu cucunya. Kalau tidak, si cucu akan merasa kecewa. Bahkan akibatnya bisa lebih jauh; si cucu akan menganggap kakeknya bodoh karena tak bisa menjawab pertanyaannya.

Begitulah, karena tak ingin mengewakan cucu, maka saya jawab pertanyaannya dengan sabar. ''Gempa terjadi karena tanah bergoyang. Goyangan itu demikian kuat sehingga rumah, sekolah, atau masjid rubuh. Kamu sudah melihat tayangannya di TV kan?'' ''Ya, Kek. Tapi mengapa tanah bergoyang? Siapa yang menggoyangkan tanah?''

Saya menarik napas panjang. Saya ragu akan menjawab bagaimana. Tapi kemudian saya sadar bahwa setiap pertanyaan cucu harus dijawab dengan bijak agar rasa ingin tahunya terpuaskan secara benar. ''Yang menggerakkan tanah adalah malaikat utusan Tuhan.''

Mendengar jawaban itu, cucu saya tampak berpikir. Lalu dari mulut mungilnya keluar pertanyaan lagi.''Mengapa malaikat menggerakkan tanah? Kan rumah orang jadi rubuh? Kan jadi banyak orang meninggal karena tertimpa rumah?''''Malaikat hanya menuruti perintah Tuhan. Dan itu ada maksudnya.''''Maksudnya apa?''

''Supaya kita tidak lupa bahwa Tuhan memiliki kekuatan besar sekali. Dan manusia hanya punya kekuatan kecil sekali. Dengan demikian manusia harus taat kepada Tuhan.''''Iya, tapi kasihan orang yang rumahnya rubuh kan?''
''Betul sekali. Mereka sedang dicoba oleh Tuhan.''''Dicoba bagaimana?''
''Dicoba kesabarannya. Kalau sabar mereka akan disayang Tuhan.'' ''Yang sudah meninggal bagaimana?''
''Oh, mereka juga disayang Tuhan dan masuk surga. Dan jangan lupa, kita wajib membantu orang-orang yang menderita karena gempa bumi itu. Supaya kita pun sama-sama disayang Tuhan.'' Alhamdulillah, cucu saya tidak mengejar saya dengan pertanyaan lanjutan. Wajahnya mengendur. Matanya tidak lagi menyimpan rasa ingin tahu.

Selama televisi menaayangkan berita gempa bumi di Yogyakarta dan Jateng, cucu saya selalu menontonnya tanpa bertanya-tanya lagi. Tapi tiga hari yang lalu dia menarik-narik saya agar mendekat ke TV. Saya bergegas memasang kacamata agar bisa lebih jelas melihat apa yang sedang tampak di layar kacar.

Saya tercengang. Di layar sedang ditayangkan situasi sangat kacau. Di sebuah lapangan sepak bola. Dari penyiar saya tahu kekacauan itu terjadi pada pertandingan sepak bola di Mojokerto, Jatim. Konon ada kisruh dan terjadilah pelemparan batu oleh penonton yang mengenai kepala seorang tentara. Si tentara mendatangkan bala sampai ratusan orang dan bersenjata lengkap. Yang sempat saya tonton bersama cucu adalah ketika bala tentara itu mengamuk di tengah lapangan. Mereka menendang, meninju, dan memukul dengan gagang senapan. Banyak korban berdarah-darah.

''Siapa mereka, Kek?''
Saya tidak bisa segera menjawab. Mata saya masih melekat di layar televisi dan masih sulit percaya akan apa yang saya lihat. Dan saya takut menjawab karena saya tahu cucu saya punya kebanggaan tinggi kepada tentara. Mainannya adalah tank plastik, pesawat tempur plastik, juga prajurit plastik. Kalau sudah bermain tentara-tentaraan, cucu saya begitu asyik.
''Siapa mereka yang memukuli orang-orang itu, Kek? Kok seperti tentara?''
''Ya, mereka tentara.''
''Siapa orang yang dipukuli?''
''Penonton sepak bola.''
''Kenapa? Kenapa tentara memukuli penonton sepak bola?''
Lagi, saya tidak bisa segera menjawab. Sebab cucu saya pasti akan kecewa kalau tahu tentara yang dibangga-banggakannya melakukan kekejaman kepada penonton sepak bola. Atau saya sendiri juga sangat kecewa melihat tentara melakukan kekerasan terhadap warga sipil di depan ratusan ribu pasang mata. Dan bukan mustahil, berita keras itu ditayangkan di seluruh dunia.

Mengapa tentara memukul rakyat padahal mereka tahu ada cara yang sah untuk menghukum si pelempar batu yang menjadi penyebab kerusuhan itu? Jawabnya, karena tentara dalam kasus Mojokerto itu tidak punya komitmen yang cukup untuk menegakkan hukum. Dan bila tentara yang merupakan alat kekuasaan negara pun tidak menghormati hukum, maka bagaimana dengan yang lain?

''Kek, kenapa tentara menendang dan memukuli penonton sepak bola?'' Cucu saya kembali bertanya. Dan dia kelihatan termangu karena melihat saya terbata-bata ketika mau memberi jawaban. Ya, tolonglah, jawab pertanyaan cucu saya, ''Kenapa tentara memukul penonton sepak bola?''

Oleh : Ahmad Tohari (Republika)